Welcome

There is only a darkness

Hikayat Pangeran Sambernyawa (RM. Said - KGPAA Mangkoenagoro I)

>> Sabtu, 07 Februari 2009

Latar Belakang
Benteng Keraton Mataram Kartasura roboh. Tembok setinggi empat meter dan tebal dua meter itu dibobol laskar pemberontak Cina. Paku Buwono II, raja Mataram kala itu, melarikan diri ke Ponorogo, Jawa Timur. Keraton yang terletak sekitar 10 km di barat kota Solo itu lalu diduduki pasukan Cina pimpinan Mas Garendi, alias Sunan Kuning, pada 30 Juni 1742. Geger Pecinan ini berawal dari pemberontakan orang-orang Cina di Batavia melawan kekuasaan Kompeni. Mereka menggempur Kartasura. Kerajaan Jawa ini dianggap boneka Belanda. Sejak pasukan Cina mengepung Istana Mataram, awal 1741, sejumlah bangsawan sudah meninggalkan Keraton. Pangeran Puger, misalnya, membangun pertahanan di daerah Sukowati, Sragen, melawan Belanda. Mangkunegoro, yang ketika itu berusia 19 tahun dan masih bernama RM Said, membangun pertahanan di Randulawang, sebelah utara Surakarta, Ia bergabung dengan laskar Sunan Kuning melawan Kompeni. Said diangkat sebagai panglima perang bergelar Pangeran Perang Wedana Pamot Besur. Ia menikah dengan Raden Ayu Kusuma Patahati. Adapun Pangeran Mangkubumi justru lari ke Semarang, menemui penguasa Belanda dan meminta dirinya dirajakan. Kompeni menolak permintaan itu. Ia kemudian bergabung dengan Puger di Sukowati. Berkat bantuan Belanda, pasukan Cina diusir dari Istana Kartasura, enam bulan kemudian, Paku Buwono II kembali ke Kartasura mendapatkan istananya rusak. Ia memindahkan Istana Mataram ke Solo (Surakarta). Kebijakan raja meminta bantuan asing itu, ternyata harus dibayar mahal. Wilayah pantai utara mulai Rembang, Jawa Tengah, hingga Pasuruan, Surabaya dan Madura di Jawa Timur harus diserahkan kepada Kompeni. Setiap pengangkatan pejabat tinggi Keraton wajib mendapat persetujuan dari Kompeni. Posisi raja tak lebih dari Leenman, atau “Peminjam kekuasaan Belanda”. Pangeran Mangkubumi, akhirnya kembali ke Keraton. Tapi Puger dan Mangkunegoro tetap melawan Mataram dan Kompeni. Kemelut Mataram masih terus berlanjut. Paku Buwono II meminta Mangkubumi meredakan pemberontakan dengan janji akan diberi kekuasaan belakangan. Mangkubumi merasa dikhianati, karena tanah lungguhnya dikurangi.

Mangkunegoro Mengangkat Raja
Pangeran Mangkubumi lalu bergabung dengan Mangkunegoro, yang bergerilya melawan Belanda di pedalaman Yogyakarta, Mangkunegoro dalam usia 22 tahun, dinikahkan untuk kedua kalinya dengan Raden Ayu Inten, Puteri Mangkubumi. Sejak saat itulah RM Said memakai gelar Pangeran Adipati Mangkunegoro Senopati Panoto Baris Lelono Adikareng Noto. Nama Mangkunegoro diambil dari nama ayahnya, Pangeran Aryo Mangkunegoro, yang dibuang Belanda ke Sri Langka.Ketika RM Said masih berusia dua tahun, Aryo Mangkunegoro ditangkap karena melawan kekuasaan Amangkurat IV (Paku Buwono I) yang dilindungi Kompeni. Mungkin karena itulah, Said berjuang mati-matian melawan Belanda. Melawan Mataram dan Belanda secara bergerilya, Mangkunegoro harus berpindah-pindah tempat. Ketika berada di pedalaman Yogyakarta ia mendengar kabar bahwa Paku Buwono II wafat. Ia menemui Mangkubumi, dan meminta mertuanya itu bersedia diangkat menjadi raja Mataram. Mangkubumi naik tahta di Mataram Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ngaloka Abdurrahman Sayidin Panotogomo. Penobatan ini terjadi pada “tahun Alip” 1675 (Jawa) atau 1749 Masehi. Mangkunegoro diangkat sebagai Patih –perdana menteri– sekaligus panglima perang dan istrinya, Raden Ayu Inten, diganti namanya menjadi Kanjeng Ratu Bandoro. Dalam upacara penobatan itu, Mangkunegoro berdiri di samping Mangkubumi. Dengan suara lantang ia berseru, “Wahai kalian para Bupati dan Prajurit, sekarang aku hendak mengangkat Ayahanda Pangeran Mangkubumi menjadi raja Yogya Mataram. Siapa dia antara kalian menentang, akulah yang akan menghadapi di medan perang” meski demikian, pemerintahan Mataram Yogyakarta berpusat di Kotagede itu tidak diakui Belanda. Setelah selama sembilan tahun berjuang bersama melawan kekuasaan Mataram dan Kompeni, Mangkubumi dan Mangkunegoro berselisih paham, pangkal konflik bermula dari wakatnya Paku Buwono II. Raja menyerahkan tahta Mataram kepada Belanda. Pangeran Adipati Anom, putera Mahkota Paku Buwono II, dinobatkan sebagai raja Mataram oleh Belanda, dengan gelar Paku buwuno III, pada akhir 1749.

Munculnya Pangeran Samber Nyawa
Setelah Pakubuwono III bertahta, Kompeni berhasil menarik Mangkubumi ke meja perundingan, hasilnya adalah “Traktat Giyanti” 1755, berdasarkan perjanjian yang diteken di desa Giyanti –kini masuk kecamatan Matesih, sekitar 40 km di timur kota Solo. Mataram dibagi dua, wilayah timur bernama Mataram Surakarta Hadiningrat, dengan Sri Susuhunan Paku Buwono III sebagai raja. Adapun wilayah barat bernama Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, di bawah kekuasaan Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono Senopati Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panotogomo. Sedangkan Mangkunegoro tetap menolak berunding dengan Belanda, dan melanjutkan perjuangan. Kini, ia tidak hanya berperang melawan Belanda, melainkan juga menghadapi pasukan Sultan Hamengkubuwono I (Mangkubumi) dan kekuatan militer Paku Buwono III. Mangkunegoro berperang sepanjang 16 tahun melawan kekuasaan Mataram dan Belanda. Selama tahun 1741-1742, ia memimpin laskar Cina melawan Belanda. Kemudian bergabung dengan Pangeran Mangkubumi selama sembilan tahun melawan Mataram dan Belanda, 1743-1752. Selanjutnya, ia berjuang sendirian memimpin pasukan melawan dua kerajaan dan pasukan Kompeni, 1752-1757. Selama kurun tersebut, pasukan Mangkunegoro melakukan pertempuran sebanyak 250 kali. Berkali-kali Mangkunegoro lolos dari sergapan pasukan gabungan Mataram, Belanda. Ia dikenal sebagai panglima perang yang berhasil membina pasukan yang militan. Dari sinilah ia dijuluki “Pangeran Sambernyawa”, karena dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai penyebar maut. Kehebatan Mangkunegoro dalam strategi perang bukan hanya dipuji pengikutnya melainkan juga disegani lawannya. Tak kurang dari Gubernur Direktur Jawa, Baron van Hohendorff, yang berkuasa ketika itu, memuji kehebatan Mangkunegoro. “Pangeran yang satu ini sudah sejak mudanya terbiasa dengan perang dan menghadapi kesulitan. Sehingga tidak mau bergabung dengan Belanda dan keterampilan perangnya diperoleh selama pengembaraan di daerah pedalaman,” tutur Hohendorff. Terjadi tiga pertempuran dahsyat pada periode 1743-1752. Yang pertama, Mangkunegoro bertempur melawan pasukan Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) di desa Kasatriyan, barat daya kota Ponorogo, Jawa Timur. Perang itu terjadi pada hari Jum’at Kliwon, tanggal 16 Syawal “tahun Je” 1678 (Jawa) atau 1752 Masehi. Desa Kasatriyan merupakan benteng pertahanan Mangkunegoro setelah berhasil menguasai daerah Madiun, Magetan, dan Ponorogo.

Mempersembahkan Kepala Belanda

Sultan mengirim pasukan dalam jumlah besar untuk menghancurkan pertahanan Mangkunegoro. Besarnya pasukan Sultan itu dilukiskan Mangkunegoro “bagaikan semut yang berjalan beriringan tiada putus”. Kendati jumlah pasukan Mangkunegoro itu kecil, ia dapat memukul mundur musuhnya. Ia mengklaim cuma kehilangan 3 prajurit tewas dan 29 menderita luka. Di pihak lawan sekitar 600 prajurit tewas. Perang besar yang kedua pecah di hutan Sitakepyak, sebelah selatan Rembang, yang berbatasan dengan Blora, Jawa Tengah. Pasukan Mangkunegoro bertempur melawan dua detasemen Kompeni Belanda, yang dipimpin Kapten Van Der Poll dan Kapten Beiman. Mangkunegoro mencatat, perang ini terjadi pada hari Senin Legi, bulan Syuro “tahun Wau” 1681, atau 1756 Masehi. Dalam pertempuran ini pasukan Belanda didukung oleh kekuatan militer Mataram Yogyakarta yang dipimpin Patih Danurejo, Raden Ronggo dan tentara Mataram Surakarta. Gabungan pasukan inilah yang terus menerus mengejar Mangkunegoro sampai ke hutan Sitakepyak. Di sini pasukan Mangkunegoro dikepung sekitar 200 soldadu Kompeni, 400 pasukan Kesultanan Yogyakarta dan 400 pasukan Surakarta. Lagi-lagi pasukan gabungan ini gagal menangkap Mangkunegoro. Berdasarkan catatan Mangkunegoro, 85 orang pasukan musuh dibunuh dan ia cuma kehilangan 15 prajuritnya. Ia juga menceritakan, dalam pertempuran ini ia berhasil “menyambar nyawa” Kapten Van Der Poll, dengan memenggal kepalanya. Dengan tangan kirinya, Mangkunegoro menyerahkan kepala itu kepada Mbok Ajeng Wiyah, salah seorang selirnya, sebagai tanda cinta. Catatan Mangkunegoro itu dibenarkan oleh Belanda lewat laporan De Jonge “In een bosch, idcht bij Blora, versloeg hij een detachement compagnies troepen, waar van de aanvoeder sneuvelde” (Di sebuah hutan dekat Blora, ia membinasakan satu detasemen pasukan Kompeni, komandannya pun mati di peperangan). Mangkunegoro tidak cuma pandai bertahan dan bersembunyi dari kejaran musuhnya. Berkali-kali pasukannya menyerang kubu pertahanan lawan. Pangeran yang bertubuh kecil dan bermata tajam ini memimpin pasukannya menyerang benteng Kompeni dan istana Keraton Mataram, keduanya di Yogyakarta. Ia mencatat peristiwa bersejarah ini terjadi pada hari Kamis, tanggal 3 Sapar “tahun Jumakir” 1682 (Jawa) atau 1757 Masehi.

Pertemuan di Desa Tunggon
Peristiwa itu dipicu oleh kekalutan tentara Kompeni yang mengejar Mangkunegoro sambil membakar dan menjarah harta benda penduduk desa.
Mangkunegoro murka. Ia balik menyerang pasukan Kompeni dan Mataram. Setelah memancung kepala Patih Mataram, Joyosudirgo, secara diam-diam Mangkunegoro membawa pasukan mendekat ke Keraton Yogyakarta. Benteng Kompeni Belanda, yang letaknya cuma beberapa puluh meter dari Keraton Yogyakarta, diserang. Lima tentara Kompeni tewas, ratusan lainnya melarikan diri ke Keraton Yogyakarta. Selanjutnya pasukan Mangkunegoro menyerang Keraton Yogyakarta. Pertempuran ini berlangsung sehari penuh Mangkunegoro baru menarik mundur pasukannya menjelang malam. Serbuan Mangkunegoro ke Keraton Yogyakarta mengundang amarah Sultan Hamengku Buwono I. Ia menawarkan hadiah 500 real, serta kedudukan sebagai bupati kepada siapa saja yang dapat menangkap Mangkunegoro. Sultan gagal menangkap Mangkunegoro yang masih keponakan dan juga menantunya itu. Kompeni, yang tidak berhasil membujuk Mangkunegoro ke meja perundingan, menjanjikan hadiah 1.000 real bagi semua yang dapat membunuh Mangkunegoro. Tak seorang pun yang berhasil menjamah Mangkunegoro. Melihat kenyataan tersebut, Nicholas Hartingh, penguasa Kompeni di Semarang, mendesak Sunan Paku Buwono III meminta Mangkunegoro ke meja perdamaian. Sunan mengirim utusan menemui Mangkunegoro, yang juga saudara sepupunya. Mangkunegoro menyatakan bersedia berunding dengan Sunan, dengan syarat tanpa melibatkan Kompeni. Singkatnya, Mangkunegoro menemui Sunan di Keraton Surakarta dengan dikawal 120 prajuritnya. Sunan memberikan dana bantuan logistik sebesar 500 real untuk prajurit Mangkunegoro. Pertemuan kedua berlangsung di Desa Jemblung, Wonogiri. Sunan memohon kepadanya agar mau membimbingnya. Sunan menjemput Mangkunegoro di Desa Tunggon, sebelah timur Bengawan Solo. “Jika Kangmas mengasihi saya, janganlah Kangmas pergi lagi,” kata Paku Buwono III, sambil merangkul Mangkunegoro. “bimbinglah saya dan menetaplah di nagari Solo. Mari kita pulang sama-sama ke nagari Solo.” Ratusan prajurit menitikkan air mata menyaksikan pertemuan dua pembesar Kerajaan Mataram itu.

Pasukan Wanita Mangkunegoro

Mangkunegoro mendirikan istana di pinggir Kali Pepe pada tanggal 4 Jimakir 1683 (Jawa), atau 1756 Masehi. Tempat itulah yang hingga sekarang dikenal sebagai istana Mangkunagaran. Untuk menetapkan wilayah kekuasaan Mangkunegoro, tercapailah kemudian perjanjian di Salatiga, 17 Maret 1757. Dalam perjanjian yang melibatkan Sunan Paku Buwono III, Sultan Hamengku Buwono I, dan Kompeni Belanda ini, disepakati bahwa Mangkunegoro diangkat sebagai adipati miji alias mandiri. Ia bergelar Kanjeng Pangeran Adipati Arya Hamangkunegoro. Kedudukannya sejajar dengan Sunan dan Sultan. Ia memerintah wilayah Kadaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Ia bertahta selama 40 tahun, dan wafat pada 28 Desember 1795. Pada 1983, pemerintah mengangkat Mangkunegoro I sebagai pahlawan nasional, mendapat penghargaan Bintang Mahaputra. Selama bertahta, ia membangun kekuasaan militer terbesar di antara tiga kerajaan Jawa. jumlah pasukannya mencapai 4.279 tentara reguler. Sebanyak 144 di antara prajuritnya adalah wanita, terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn (senapan), satu peleton bersenjata penuh, dan satu peleton kavaleri (pasukan berkuda). Mangkunegoro tercatat sebagai raja Jawa yang pertama melibatkan wanita di dalam angkatan perang. Prajurit wanita itu bahkan sudah diikutkan dalam pertempuran, ketika ia memberontak melawan Sunan, Sultan dan Kompeni. Selama 16 tahun berperang, Mangkunegoro mengajari wanita desa mengangkat senjata dan menunggang kuda di medan perang. Ia menugaskan sekretaris wanita mencatat kejadian di peperangan.

2 komentar:

Anonim 11 Februari 2009 20.50  

dark, keren abiz pokok nya...
cuma kepanjangan.....
q jdi ga sempat baca...
wakakakkakak.

Andreas 3 Juni 2010 17.45  

Ternyata Mangkunegoro I, benar2 seorang ksatria, aq bangga!!!...

blogcatalog

Site Map Visitor

rssmicro

RSSMicro FeedRank Results

Page Rank

Sitemeter

Alexa rank

  © Blogger templates Inspiration by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP